Kumpulan materi kuliah, cerita pendek, dan ilmu agama Islam.

Kamis, 07 Juli 2016

TEMAN IMPIAN, TEMAN MENUJU IMPIAN



            “Ayo anak-anak cepat berbaris! Ini sudah jam 7,” suruh Pak Novan, guru Matematika kelas 12 SMA Cinta Bangsa.
            “Iya, Pak. Sabar sedikit, lagipula ini hari pertama masuk,” Anto membela diri.
            “Sudahlah, To. Kita menurut saja jangan melawan guru begitu, tidak baik,” Fahmi menasihatinya.
            “Iya benar yang dikatakan Fahmi. Segera berbaris saja. Ini juga melatih kedisiplinan kalian,” ujar Pak Novan.
            Mereka berdua pun berbaris dan melaksanakan upacara bendera yang memang cukup berat bagi murid yang baru menyelesaikan liburan semester. Namun, upacara itu tidak ada apa-apanya dibandingkan perjuangan yang akan mereka tempuh selama semester 2 di kelas 12. Anto dan Fahmi merupakan dua murid dari 300 murid kelas 12 dan bagian dari 900 murid di SMA Cinta Bangsa.
Ada yang istimewa dari kedua murid yang telah bersahabat sejak Taman Kanak-Kanak tersebut, yaitu prestasi akademik mereka yang sangat bagus. Sejak kelas 10 SMA, Anto sudah menjadi peringkat 1 paralel dan Fahmi duduk di peringkat 2, mereka sanggup mempertahankan prestasi tersebut sampai semester 5 atau sama dengan semester 1 di kelas 10 SMA. Sebenarnya Anto jauh lebih pandai dari Fahmi. Namun, Anto bukanlah orang yang pelit ilmu, dia selalu mengajak Fahmi belajar bersama dan mengajarinya. Fahmi merasa sangat bersyukur memiliki teman sebaik Anto. Fahmi juga memberikan timbal balik kepada Anto dengan mengajarinya dalam bidang kesenian dan olahraga karena itulah keahlian Fahmi.
            Saat upacara, Pak Endi, selaku Kepala Sekolah SMA Cinta Bangsa, memberikan amanahnya, “Murid-muridku yang aku cintai, selama sekolah ini hanya satu yang wajib kalian lakukan, yaitu belajar dengan rajin, terutama bagi murid kelas 12 karena 3 bulan lagi akan menghadapi ujian nasional. Jangan malas untuk berlatih soal selama 5 tahun sebelumnya. Apabila sudah menguasai, bisa belajar soal SBMPTN juga. Jangan lupa untuk rajin beribadah, berdoa, dan berbakti kepada orang tua. Apa kalian siap?”
            “Siap, Pak,” jawab semua murid dengan penuh semangat.
            Seusai upacara, semua murid segera memasuki kelasnya masing-masing. Tak terkecuali dengan Anto dan Fahmi yang saat ini dalam kelas yang sama.
            “Mi, sebentar lagi kita akan menghadapi ujian nasional. Bagaimana kalau jam belajar kita ditambah?”
            “Aku sih ikut kamu saja, To. Lagipula kamu kan guruku. Seperti katamu tadi, murid harus menurut kepada gurunya.”
            “Wah mulai ngelantur. Aku ini hanya teman baikmu. Bahkan sudah seperti saudara. Kok malah disebut guru. Berarti kamu setuju ya belajarnya ditambah?”
            “Siap, Pak.”
            Seperti biasa, mereka mengikuti pelajaran dengan baik, semester 2 dimulai dengan pelajaran paling berat, yaitu Matematika. Materi yang diajarkan adalah integral dan mengulang sedikit tentang diferensial. Anto tidak seperti biasanya yang langsung memahami suatu materi pelajaran, kali ini dia kebingungan.
            “Mi, kamu paham tidak apa yang diajarkan Pak Novan tentang integral ini?” tanya Anto kepada Fahmi.
            “Waduh, To. Aku mana ngerti begituan. Bagiku, lambang kalkulus itu terlihat seperti pemandangan air terjun,’ jawabnya dengan bercanda.
            “Wah, begitu ya. Susah juga ngomong sama seniman jurusan IPA ini. Tapi ini memang susah, Mi.”
            “Hmm, kenapa kamu tidak bertanya ke Pak Novan?”
            “Aku juga maunya begitu, Mi. tapi aku juga bingung ingin menanyakan apa.”
            “Haha, ya sudah santai saja. Sekarang kita dengarkan semampu kita, To. Nanti kita bahas bersama di rumahmu.”
            “Iya deh. Tumben kamu bijaksana, Mi.”
            Seperti saran Fahmi, mereka berdua tetap memperhatikan pelajaran dengan baik tanpa bertanya apapun. Pelajaran selanjutnya mampu diserap dengan baik oleh Anto, Fahmi sebenarnya juga bisa memahami tetapi dia lebih yakin akan pemahamannya setelah diajari oleh Anto karena baginya, guru yang paling baik bukanlah pengalaman ataupun buku, guru terbaik adalah Anto. Jam pulang sekolah pun tiba, mereka berdua pulang ke rumah masing-masing, kemudian Fahmi berpamitan kepada orang tuanya untuk belajar di rumah Anto karena sekarang memang giliran belajar di rumah Anto. Orang tua mereka berdua sangat mendukung kegiatan belajar Anto dan Fahmi karena memang benar-benar belajar bukan malah bermain bersama.
            Sore itu mereka mempelajari kembali pelajaran yang tadi, terutama mengenai integral. Sudah diulang, namun mereka masih kesulitan.
            “Bagaimana ini, Mi? Masih belum mengerti juga.”
            “Iya lebih baik kita belajar yang lain dulu, mata pelajaran yang diujikan di UNAS bukan hanya matematika saja.”
            “Benar juga kamu, Mi. Semangat belajar!”
            Mereka berganti ke pelajaran Kimia. Anto yang sangat ahli di bidang kimia pun seakan sudah hafal isi dari buku Kimia. Kemudian, dia melihat Fahmi. Ada yang aneh dari Fahmi, setelah membaca 1 halaman, dia membuka handphone-nya dan tersenyum sendiri. Padahal biasanya Fahmi bukan lelaki yang aktif di media sosial. Namun, Anto memahami apa yang terjadi.
            “Siapa nama cewekmu, Mi?”
            “Cewek apa, To? Memangnya aku tadi membahas cewek?”
            “Lah itu di handphone-mu, yang kamu senyumin dari tadi.”
            “Oalah ini lho banyak yang memberikan comment lucu di status Facebook-ku.”
            “Kalau bohong itu ya dipikir dahulu. Statusmu dari dulu itu sepi, gak ada likes atau comment. Lagipula sekarang zamannya Path, Instagram, dll. Sudah jujur saja siapa itu?”
            “Hmm, susah juga melawan orang paling pandai di sekolah ini, Namanya Citra, anak sekelas kita itu lho. Dia tadi tiba-tiba mendekatiku saat istirahat dan minta diajarin untuk menghadapi UNAS.”
            “Wah, kesempatan itu, Mi. Dia cantik banget. Saat kelas 10, aku tertarik sama dia karena memang waktu itu kita sekelas. Tapi, rasa itu tidak bertahan lama.”
            “Lho, memang kenapa, To? Katamu dia cantik,” bela Fahmi.
            “Dia hanya datang saat butuh saja, Mi. Kalau urusannya sudah selesai, dia bakal meninggalkanmu. Aku dulu juga pernah diminta mengajari, waktu itu dia baik sekali bahkan kami berdua sudah seperti orang pacaran. Tapi, setelah ujian dan nilai dia bagus. Aku langsung ditinggal. Mungkin karena aku sudah menjadi korban, dia minta ajarinnya ke kamu, Mi.”
            “Wah, jangan berprasangka seperti itulah, To. Mungkin saja dia sudah berubah.”
            “Iya maaf. Aku hanya memperingatkanmu saja kok sebagai teman baik.”
            “Jangan-jangan kamu iri ya sama aku karena dia tidak minta ajarin kamu?”
            “Bukan begitu, Mi. Aku tidak mau kamu bernasib sepertiku.”
            “Sudahlah, To. Aku pulang dulu saja.”
            “Hmm, maaf ya, Mi.”
            Itulah percakapan terakhir mereka berdua. Sejak saat itu mereka jarang bertemu. Padahal Anto sudah sering mengajak Fahmi belajar bersama tetapi Fahmi selalu menolak karena dia sibuk mengajari Citra. Setiap sore Fahmi ke rumah Citra untuk mengajarinya, namun dia berpamitan ke orang tua untuk belajar di rumah Anto. Hubungan mereka semakin dekat. Bahkan, Fahmi sampai mengungkapkannya.
            “Citra, bagaimana kalau kita melanjutkan hubungan kita ke jenjang pacaran? Aku merasa cocok sekali denganmu, aku sudah sayang sama kamu, Cit.”
            “Hmm, apa menurutmu ini tidak terlalu cepat, Mi?”
            “Bagiku, lebih cepat lebih baik, Cit.”
            “Aku beri jawabannya seminggu lagi ya, kan lusa sudah ujian. Jadi, itu setelah ujian.”
            “Iya aku selalu menunggumu.”
            Setelah itu, Fahmi berpamitan pulang. Sesampainya di rumah, Fahmi sudah ditunggu oleh Anto.
            “Ada apa, To?”
            “Kamu baik-baik saja kah?”
            “Iya baik, memangnya kenapa?”
            “Ya aneh saja biasanya kita belajar bersama. Sekarang belajar terpisah.”
            “Oalah iya nih To. Aku kan mengajari Citra.”
            “Kamu suka sama Citra?”
            “Iya aku suka, malah aku sudah nembak dia.”
            “Apa? Kamu sudah nembak dia?”
            “Iya, To. Maaf aku belum bisa sependapat sama penilaianmu tentang Citra. Dia baik banget sama aku.”
            “Iya, Mi. Sebenarnya aku mau jujur. Aku bohong tentang Citra. Waktu itu dia tidak meninggalkanku. Aku yang menjauh darinya karena aku punya komitmen tidak akan pacaran selama SMA. Aku suka banget sama dia jadi lebih baik aku menjauh darinya daripada aku semakin suka. Tapi, saat aku tahu kamu dekat sama dia, aku cemburu, Mi. Oleh karena itulah aku mengarang cerita itu. Maaf ya, Mi. Aku harap kamu tidak marah.”
            “Iya, To. Tenang saja. Aku sudah tahu kalau kamu cemburu. Kamu jujur seperti ini karena kangen sama aku ya? Ciee.”
            “Apa sih kamu ini, Mi? Bisa saja kamu bercandanya.”
            “Terus bagaimana ini? Apa aku boleh pacaran sama dia, To?”
            “Iya boleh kok. Aku tidak berhak melarang teman baikku untuk bahagia.”
            “Ya sudah, mau belajar bareng tidak sekarang?”
            “Iya mau, kamu sudah memahami integral?”
            “Belum, To. Aku hanya bisa mengerjakan beberapa tipe soal tentang integral, belum semuanya.”
            “Iya aku juga sama. Ya berarti hanya bisa berharap semoga soal tipe itu yang keluar.”
            “Aamiin. Ayo belajar pelajaran lain, lusa sudah ujian nih.”
            Ujian telah dimulai. Tidak ada masalah bagi mereka berdua. Begitupun Citra yang sudah diajari oleh Fahmi. Saat ujian matematika pun tiba, soal integral yang keluar adalah tipe yang bisa dikerjakan oleh Fahmi. Namun, Fahmi sengaja menjawab salah karena dia takut itu bukan tipe soal yang bisa dikerjakan Anto, dia tidak mau mendapatkan nilai di atas guru tercintanya itu.
Ujian pun telah mereka lewati dengan baik. Beberapa hari setelah ujian, seperti janjinya, Citra bertemu dengan Fahmi untuk memberikan jawabannya.
            “Mi, bagaimana? Apa kamu sudah siap menerima jawabannya?”
            “Sebentar, Cit. Sebelum kamu menjawab, aku mau berkata sesuatu. Aku pikir sebaiknya kita berteman saja, Cit. Aku tidak bisa pacaran sama kamu sementara ada temanku yang sudah memendam rasa kepadamu sejak lama tetapi aku tidak bisa memberitahu siapa orangnya, nanti kamu akan tahu sendiri.”
            “Iya, Mi. Aku memahami alasanmu itu. Aku juga sebenarnya tadi ingin menolak cintamu karena aku belum siap untuk pacaran. Aku sudah mengetahui siapa yang kamu maksud, yaitu Anto. Kalian berdua sama-sama baik dan pandai. Tapi, memang aku belum siap, maaf ya, Mi.”
            “Ya sudah daripada di antara kita bertiga ada rasa yang tidak enak. Alangkah baiknya jika kamu bergabung belajar bersama aku dan Anto selama SMP dan seterusnya. Anto pasti suka kalau kamu bergabung.”
            “Wah terima kasih banyak, Mi. Jujur kemarin aku merasa terbantu sekali dan bisa mengerjakan ujian dengan baik. Semoga nilai kita bagus semua.”
            “Aamiin, apa yang aku ajarkan ke kamu sebenarnya adalah semua yang telah diajarkan Anto kepadaku. Jadi, jangan lupa berterima kasih juga kepada Anto.”
            “Iya, Mi.”
            Sebulan berlalu dan hasil ujian nasional pun diumumkan. SMA Cinta Bangsa menempatkan 3 muridnya di peringkat 3 besar nasional, atas nama Anto, Fahmi, dan Citra. Anto dan Fahmi mendapatkan nilai yang sama, yaitu 59,75, sedangkan Citra mendapat nilai 59,50. Anto dan Fahmi bertemu dengan Citra untuk mengucapkan selamat.
            “Selamat ya, Cit.”
            “Iya kalian juga selamat sudah mendapatkan hasil terbaik. Kukira kalian akan mendapat nilai sempurna, ternyata salah satu soal di Matematika.”
            Fahmi pun bertanya kepada Anto, “To, kamu kok tidak mendapat nilai 100 di Matematika?”
            “Iya, Mi. Aku sebenarnya bisa mengerjakan soal integral tipe itu, tetapi aku takut kamu tidak bisa mengerjakan yang tipe itu. Jadi aku sengaja salah.”
            “Iya aku juga seperti itu kok, Mi. Sengaja salah. Hehe.”
            Citra ikut menanggapi, “So sweet sekali kalian ini. Kejadiannya bisa sama seperti itu. Tapi itu sengaja salah atau memang tidak bisa mengerjakan? Jujur hayoo.”
            Mereka berdua menjawab, “Ngawur aja kamu, Cit.”
            Mereka bertiga tertawa bersama. Rekan belajar sekarang berubah menjadi grup belajar. Cinta segitiga menjadi persahabatan. Bersama-sama menggapai impian.



            
Share:

Selasa, 05 Juli 2016

Hati yang Tersakiti di Bulan Suci


            Pagi itu aku bangun lebih awal dari biasanya, padahal itu sudah liburan semester ditambah bulan Ramadhan, pasti lebih enak bangun siang. Itu dikarenakan teman-teman sekelasku saat SMP berencana untuk melayat ke rumah salah temanku yang sedang berkabung karena kehilangan ibunya, Robert. Kami akan berangkat sekitar pukul 9 pagi, berkumpul dulu di rumah Ika, salah seorang teman sekelas kami juga. Kami tidak langsung berangkat walau sudah jam 9 karena masih menunggu lengkap. Awalnya, tidak ada yang aneh selama menunggu. Namun, semua berubah ketika Irene datang. Sebenarnya, aku tidak terpengaruh apa-apa dengan kedatangannya. Akan tetapi, teman yang lain yang seakan punya bahan untuk mengusik ketenanganku. Wajarlah, Irene itu dulu adalah teman dekatku, ya bisa disebut pacar, yang berarti sudah mantan pacar. Mereka memang hanya mengolok-olok di awal, tapi saat mau berangkat tidak ada yang mau membonceng Irene dan hanya aku yang sendirian saat itu. Terpaksa deh, aku yang membonceng.
            “Semoga Fina tidak marah karena aku membonceng perempuan lain,” gumamku.
            Fina itu adalah kekasihku yang sekarang. Sedangkan aku sendiri biasa di panggil Febri. Fina itu lumayan super protektif. Namun, aku tidak mempermasalahkan itu karena protektif menunjukkan dia benar-benar menyayangiku. Kembali ke cerita. Segera setelah semua berkumpul, kami berangkat. Tidak ada pembicaraan di awal perjalanan antara aku dan Irene tetapi karena jaraknya jauh dan aku takut mengantuk di tengah jalan, aku mengajak dia mengobrol ringan.
            “Bagaimana kabarmu, Ren?”
            “Iya baik-baik saja. Kamu sendiri?”
            “Alhamdulillah, baik. Teman-teman tadi menyebalkan juga ya. Kita disuruh boncengan.”
            “Haha, Iya dari dulu memang kita berdua yang jadi korban, Feb.”
            “Iya wajar dulu kita memang pacaran, tapi sekarang sudah punya pacar masing-masing. Cowokmu tidak marah kalau kamu bonceng aku?”
            “Enggak kok, pasti ngerti lah. Lagipula ramai bareng teman yang lain.”
            “Wah, enak ya. Kalau cewekku tahu pasti marah besar nih.”
            “Tapi jangan bohong lho, Feb. Lebih baik jujur saja, cewek lebih suka kejujuran walau itu sakit.”
            “Hmm, benar juga ya. Ya sudah nanti akan kucoba berkata jujur sama dia. Makasi ya sarannya.”
            “Ya sudah, fokus ke jalan saja, Feb. Kalau sering mengobrol nanti malah dituduh yang tidak-tidak sama mereka.”
            “Iya, Ren.”
            Itu sepertinya percakapan terakhir di antara aku dan Irene. Sisanya adalah diam. Sampai di rumah Robert pun kami berdua tidak mengobrol karena sibuk dengan teman sesama jenis. Sekitar 1 jam kami sekelas di rumah Robert, kami pamit pulang karena memang tujuan kami sudah tercapai, yaitu menghibur Robert. Saat pulang, keadaan tidak jauh berbeda, aku tetap membonceng Irene. Namun, tidak ada percakapan di perjalanan pulang.
            Sesampainya di depan rumah Irene, “Terima kasih ya, Feb.”
            “Iya, sama-sama, Ren.”
            “Apa aku harus ke rumah Fina atau SMS saja ya?” tanyaku pada diri sendiri yang kebingungan.
            Aku memutuskan untuk SMS yang berisi pengakuan bahwa aku membonceng mantan pacar. Beberapa menit kemudian.
            “Memangnya tidak ada cewek lain yang bisa dibonceng?” balasnya melalui SMS juga.
            “Tidak ada, tinggal dia saja. Kasihan kalau tidak ada yang bonceng.”
            “Oh jadi kamu lebih memilih bonceng mantanmu daripada jaga perasaanku. Ya sudah, pacaran saja sama mantanmu itu.”
            “Maaf sayang, aku tidak bermaksud begitu.”
            Aku menunggu balasan. Beberapa menit kutunggu tetap tidak ada balasan. Sepertinya tadi adalah balasan terakhirnya. Terpaksa aku berangkat ke rumahnya untuk meminta maaf. Padahal rumahnya cukup jauh, 15 km dan ditambah keadaanku yang berpuasa. Tak apalah, demi cinta yang sangat membara ini aku rela menempuh jarak berapapun untuk bertemu Fina.
            Sekitar 20 menit aku sampai di rumahnya. Aku mencoba untuk menelpon tetapi tidak diangkat, SMS juga tidak dibalas.
            “Hmm, apa sih maunya,” gumamku yang mulai sebal dengan tingkah lakunya.
            Aku memutuskan untuk pergi dari situ daripada menunggu hal yang sia-sia. Aku mencari tempat yang sepi, tenang. Jauh dari siapapun dan memang benar-benar jauh, sekitar 20 km dari rumah Fina. Tempat yang kugunakan untuk menenangkan diri bukanlah rerumputan atau taman seperti di film-film tetapi hanya pom bensin yang sudah lama tidak digunakan. Aku merenung di situ, memikirkan mengapa emosiku tidak terkendali padahal ini bulan Ramadhan.
            Tiba-tiba Fina menelpon, “Kamu dimana, Feb? Maaf aku tadi tidur.”
            “Hmm, aku di pom bensin depan kebun raya. Memangnya kenapa?”
            “Hah? Ngapain kamu ke situ?”
            “Iya menenangkan diri lah, kamu marah-marah terus, Fin. Padahal aku cuma membonceng saja.”
            “Iya, Feb. Aku minta maaf atas sikapku tadi. Sekarang kamu balik saja ke rumahku. Sudah sore ini, nanti kita buka bareng ya.”
            “Ya sudah kalau begitu, aku berangkat sekarang.”
            Aku bersyukur sekali, ternyata Fina sudah mereda kemarahannya. Aku juga merasa bersalah tadi telah berprasangka buruk saat Fina tidak angkat telepon. Saat mau menaiki sepeda motor, tiba-tiba hujan turun. Untunglah, aku membawa jas hujan. Dengan cepat aku memakainya karena memang sudah sore. Tak peduli dengan hujan dan jalanan licin, aku tetap melaju dengan kencang.
            Sebenarnya bukan licinnya jalan yang menjadi bahaya saat itu, tetapi bahaya sesungguhnya ada di suasana hujan yang sangat dingin dan membuat setiap manusia normal merasa mengantuk. Begitu pun diriku ini, seharian di jalan pasti melelahkan. Seakan tidak ada tenaga untuk menahan matai ni terbuka, aku pun tertidur padahal masih mengendarai sepeda motor. Tak lama aku tertidur, tetapi saat membuka mata ada gerakan refleks kaget dari tubuhku. Tiba-tiba aku keluar dari jalur dan dubraakk!! Aku pun terjatuh bersama sepeda motorku. Celana sobek, kakiku sakit seakan tak bisa bergerak. Alhamdulillah, aku masih hidup dan banyak orang yang menolong.
            Jujur aku bingung akan menghubungi siapa. Aku kasihan kalau orang tuaku yang menjemputku karena terlalu jauh. Aku memutuskan menghubungi Fina.
            “Halo Fin, kamu sibuk sekarang?”
            “Tidak sayang, ada apa? Bukannya kamu sedang perjalanan ke sini?”
            “Iya ini lho sayang, aku jatuh karena tertidur tadi.”
            “Waduh, iya deh aku jemput sekarang ya. Kamu di mana?”
            “Aku di daerah pertokoan dekat Taman Safari nih, maaf merepotkan,” ujarku dengan penuh rasa bersalah.
            “Iya sayang santai saja. Kita memang harus saling menolong, sabar ya tunggu aku.”
            “Sekali lagi terima kasih, aku sayang kamu, maaf juga tadi sudah membuatmu sakit hati.”
            “Iya sayang tidak usah minta maaf lagi, sudah aku maafkan karena kamu mau berkata jujur kepadaku.”

            Kejujuran itu yang utama. Jika kita melakukan kesalahan dan kita mengakui dengan jujur, maka orang yang kita sakiti lebih mudah memaafkan kita. Namun sebaliknya, jika kita menutupinya, maka suatu saat dia akan mengetahui kenyataan itu dari orang lain dan kita pun sulit dimaafkan. Usahakan juga jangan sampai menyakiti hati orang lain terutama kekasih kita, apalagi itu di bulan Ramadhan. Allah swt akan segera membalas dengan balasan yang setimpal.
Share:

Senin, 04 Juli 2016

Penyesalan Hidup di Pintu Kematian



            Kring… Kring… Kring… Alarm jam berbunyi, masih berusaha memanggil kembali jiwa Doni yang terlelap dalam tidur nyenyaknya. Wajar lah dia belum bangun karena tadi malam tidur sangat larut. Lima menit berlalu, alarm pun berhasil membantu Doni membuka mata. Teringat sesuatu, Doni langsung beranjak dari kasurnya untuk mandi. Namun, ada satu hal penting yang terlupakan, sholat Subuh. Mungkin itu bukan hal penting lagi baginya. Setelah mandi, langsung dia menuju mobil, memanasinya sebentar dan berangkat dengan segera. Dia tidak perlu berpamitan saat akan keluar karena orang tuanya sedang di luar negeri. Pantaslah jika kurang teratur hidupnya. Di dalam mobil, dia mencoba menelpon seseorang di kontaknya yang bernama Tina.
            “Tina sayang, kamu udah siap?”
            “Iya sudahlah dari tadi aku nungguin kamu.”
            “Wah, kamu sudah di mana sekarang?”
            “Hmm di taman nih. Kamu baru bangun ya?”
            “Iya aku baru bangun, sudah tidak usah marah-marah yang penting aku sudah berangkat sekarang.”
            “Kapan pula aku marah, kamu kan sudah biasa seperti ini. Ya sudah cepat ke sini.”
            Setelah menutup telpon, dia menambah kecepatannya. Lampu merah pun dia terobos padahal jalanan cukup ramai. Untung saja tidak ada polisi. Sesampainya di taman, dia tidak langsung menemukan Tina. Terpaksa dia berjalan dahulu. Dia melihat sekeliling untuk menemukan posisi Tina. Tiba-tiba ada yang mencolek tubuhnya. Dia terkejut dan memeriksa ternyata hanya seorang ibu yang meminta-minta. Doni tidak memberikan uang kepada ibu itu bahkan mengolok-oloknya.
            “Ibu ini masih terlihat kuat bekerja. Enak saja ibu minta uang kepada saya. Pergi sana!” sentak Doni. Ibu itu hanya terdiam dan segera pergi dari Doni dengan muka sedih menahan tangis.
            “Don, Doni!” tampak dari kejauhan Tina menyapa Doni.
            “Wah akhirnya ketemu juga, iya tunggu sebentar,” Doni menghampiri Tina.
            “Don, sebenarnya aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”
            “Iya langsung saja Tin.”
            “Kamu tahu ibu yang minta-minta tadi siapa?”
            “Gak tahu lah, Tin. Kenal saja tidak. Memangnya ada apa?”
            “Sebenarnya, tadi itu ibuku yang mau mengetes kamu. Ibuku ingin mengetahui karakter kamu yang sesungguhnya. Namun, tadi aku melihatnya sendiri sikapmu terhadap ibuku yang menyamar. Aku berharap kamu bisa berubah, Don.”
            “Hmm, selama ini kamu kurang percaya ya sama aku. Padahal aku percaya banget sama kamu. Tidak ada artinya pengorbanan yang selama ini aku lakukan. Lebih baik kita putus saja, Tin!” bentak Doni.
            “Kamu benar-benar tidak mau berubah ya, Don. Jujur Don, bukannya aku tidak percaya, itu hanyalah keinginan ibuku. Aku sayang sama kamu, Don. Aku bakal menantimu, aku akan kembali saat kamu telah sadar,” ucap Tina dengan sedikit isak tangis.
            “Ya sudah, aku pergi dulu. Aku menyesal telah menyayangimu sedalam ini,” itulah ucapan terakhir Doni kepada Tina, perempuan yang menjadi kekasihnya selama 3 tahun. Langsung ia hapus semua kontak yang berhubungan dengan Tina, tidak luput foto-fotonya bersama Tina. Sebenarnya dia sangat sedih karena harus berpisah dengan Tina. Namun, dia terlalu gengsi untuk meminta maaf. Jadi, dia mencoba untuk melupakan Tina.
            Sesampainya di rumah, dia masih berpikir mengapa semua ini terjadi padanya. Dia memulai instropeksi apa saja kesalahannya selama ini. Seakan mendapat secercah cahaya di bawah tanah yang gelap, dia tersadar kesalahannya selama ini, yaitu jarang beribadah, jarang mendekatkan diri kepada Allah swt. Langsung dia beristighfar dan air mata tak terbendung lagi membasahi mata dan pipinya.
            Dia mengambil wudlu dan melaksanakan sholat Subuh yang tadi belum ia lakukan. Dia sadar bahwa sholatnya tidak sah karena sudah di luar waktunya. Namun, dia tetap berusaha untuk bertobat, berharap Allah swt akan mengampuni dosanya. Tak lupa dia juga melaksanakan sholat Dhuha. Setelah salam, adzan Dzuhur berkumandang. Hatinya tersentuh sekali mendengar lantunan adzan sang muadzin.
            “Hmm, ke mana saja aku selama ini? Astaghfirullah.” Dia menangis sejadi-jadinya. Tak lupa mengambil wudlu, kemudia memakai sarung dan baju taqwa menuju masjid untuk sholat berjamaah.
            “Assalaamu’alaikum, dik Doni,” sapa pak Ustadz sesampainya di masjid.
            “Wa’alaikumus salaam, pak Ustadz,” hatinya merasa tenteram mendengar ucapan salam dari pak Ustadz semakin mantap hatinya untuk bertobat.
            “Bagaimana kabarnya, dik?” tanya pak Ustadz.
            “Alhamdulillah, insyaAllah saya akan memperbaiki diri, pak. Mohon bimbingannya.”
            “Iya, insyaAllah saya bantu. Tobat dik Doni akan diterima jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, penuh penyesalan, dan tidak mengulanginya lagi. Jika ada masalah dengan orang lain, segera meminta maaf langsung ke orangnya.”
            Seketika itu pula Doni teringat kesalahannya kepada Tina dan ibunya. Namun, iqomah sudah dikumandangkan. Dia pun memasuki masjid bersama pak Ustadz dan melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah. Setelah sholat dia bergerak cepat menuju rumah dan langsung mengendarai mobil ke rumah Tina. Dia ingin menelpon Tina tetapi kontaknya sudah dia hapus sebelumnya. Semakin dalam penyesalan yang ia rasakan.
Sesampainya di rumah Tina, dia mencoba untuk mengetuk pintu rumah Tina. Tidak ada jawaban. Dia kebingungan dan mencoba bertanya ke tetangga.
“Permisi bu, apa Tina dan keluarganya ada di rumah?”
“Lho adik tidak tahu kalau Tina pindah rumah ke luar kota?”
“Wah saya baru mengetahuinya sekarang. Hmm, pindah ke kota apa ya, bu?”
“Kurang tahu, dik. Coba dihubungi saja Tina.”
“Iya terima kasih infonya, bu,” jawab Doni dengan lemas. Dia sadar sudah tidak bisa menghubungi Tina lagi. Kemudian Doni pun pergi meninggalkan rumah Tina. Mencoba benar-benar melupakan Tina dan berharap kesalahannya dimaafkan.
Tiga puluh lima tahun telah berlalu sejak kejadian itu. Sekarang, Doni sudah berkeluarga bahkan telah mempunyai 2 cucu dari anak pertamanya yang bernama Roni. Sedangkan adik-adik Roni masih menyelesaikan studinya dan belum menikah. Doni yang sekarang memang benar-benar berubah. Dia sangat menguasai ilmu agama dan menjadi seorang ustadz terkenal. Sudah tidak ada lagi yang mengenal Doni sebagai berandalan.
Doni yang tidak ingin sifatnya dahulu menurun kepada anaknya dan kejadian yang serupa terjadi pada anaknya, telah menceritakan semua kisahnya tersebut kepada anak-anaknya terutama Roni yang paling dewasa. Dia juga bercerita tentang peristiwa yang mengubah hidupnya saat putus hubungan dengan Tina, perempuan yang selalu diingatnya. Namun, sejak bertemu dengan seorang perempuan yang sholehah bernama Fatimah di kampusnya, Doni sudah bisa melupakan Tina. Pada akhirnya Doni dan Fatimah menikah, yang sekarang sudah memiliki keluarga besar.
Namun, suatu hari Doni mengalami sakit keras. Tidak diketahui apa sebabnya, bahkan dokter di rumah sakit sangat kebingungan dengan penyakit ustadz Doni ini. Berbagai ahli sudah menangani namun belum sembuh juga penyakitnya. Hingga pada akhirnya Doni sudah menyerah dan mengumpulkan semua anggota keluarganya.
“Roni, anakku, kamu adalah anak tertua yang ayah miliki. Tolong jaga keluarga kita ya.”
“Kenapa ayah berkata begitu? Ayah tega meninggalkan kami semua?” balas Roni
“Ayah sudah tidak sanggup Ron, kondisi ayah sangat lemah. Bolehkah ayah berpesan sesuatu?”
“Iya ayah silahkan. Aku akan mendengarkan dengan baik.”
“Tolong kamu cari perempuang yang pernah ayah ceritakan, yaitu Tina dan ibunya. Dan tolong sampaikan permintaan maafku kepada mereka. Ayah tidak bisa tenang tanpa permintaan maaf dari mereka berdua.”
“Baik, yah. Akan Roni laksanakan sekarang juga.” Roni segera pamit melaksanakan amanah terakhir ayahnya.
“Tunggu sebentar, Ron,” tiba-tiba ibu menghentikan Roni.
“Ada apa, bu?” tanya Roni.
“Ibu mau mengakui sesuatu. Tolong jangan pergi dahulu.”
            “Doni, sebenarnya aku, istrimu ini, adalah Tina,” aku Fatimah alias Tina.
            “Bagaimana mungkin? Kamu itu Fatimah, bukan Tina,” balas Doni yang tidak percaya.
            “Iya benar, aku Tina, Don. Sejak kejadian di taman itu, ibuku mendadak sakit dan kondisinya sekarat. Dia juga merasa bersalah telah membuat kita berdua terpisah. Jadi, sebelum meninggal ibuku berpesan akan memberikan maaf kepadamu Don kalau kamu sudah meminta maaf kepadaku. Setelah ibu meninggal, aku mencoba untuk mengganti namaku menjadi Fatimah serta penampilanku yang menjadi berjilbab agar aku bisa mendekatimu lagi, Don. Aku terus mengikuti perkembanganmu. Kemudian aku juga berkuliah di tempat yang sama denganmu, yaitu di Universitas Islam. Aku melihat bahwa kamu memang sudah berubah, Don. Aku juga lama-lama merasakan Allah swt telah memberikan hidayah melalui lingkungan kampusku yang sangat Islami. Sejak saat itu, cintaku kepadamu tidak hanya cinta nafsu tetapi juga cinta karena Allah swt.”
            “Tapi kenapa kamu tidak pernah bercerita jujur selama ini, Fat?”
            “Aku tidak bercerita karena ingin melihat apakah kamu masih ingat dengan kesalahanmu kepada ibuku dan aku. Aku dengan sabar menanti bertahun-tahun tetapi kamu sepertinya sudah melupakan kejadian itu. Jadi, aku berusaha ikhlas dan memikirkan itu lagi. Namun, karena kamu sudah meminta maaf kali ini, jadi aku berkata yang sejujurnya kepadamu bahwa ibuku sudah memaafkanmu, Don.”
            “Bagaimana denganmu, Fat? Apakah kamu juga memaafkanku?”
            “Sejak kamu memutuskan hubungan kita di taman 35 tahun lalu, aku sudah memaafkanmu karena aku sangat mencintaimu, Don. Waktu itu kan aku sudah bilang kalau aku akan menunggumu.”
            “Terima kasih, Fat. Aku juga sangat mencintaimu.”
            Seakan-akan Allah swt memberikan kesempatan kedua kepada Doni. Tubuhnya yang lemas dari tadi langsung pulih dan segar kembali. Seluruh anggota keluarga bersyukur dan memeluk erat kepala keluarga mereka yang tercinta, yaitu Doni.

            “Terima kasih ibunya Fatimah yang sudah memaafkanku, semoga engkau tenang disana.” 
Share:

Lomba Menulis Cerita Inspiratif di Bulan Suci - Nahima Press


Apa aku berdosa? Apa pahala puasaku masih dapat dihitung? Aku tak mengerti, mana kategori dosa yang bisa mengurangi pahala puasaku atau bahkan membatalkan puasaku. 
Berbicara soal "dosa", rasanya beraaat... sekali... untuk diceritakan. 
Tapi, dalam event kali ini, saya ingin membuat kita paham betul mengenai kesalahan di bulan puasa. 
Minimal, dari hal sepele yang tak sengaja dilakukan yang ternyata termasuk dosa. 
Kalian akan dituntut untuk menceritakan dosa-dosa tersebut, dengan sedikit balutan amanat di dalamnya.
Dalam rangka mengisi Bulan Suci Ramadhan, kegiatan ini tentu membawa hal positif. 
Untuk itu, kami meminta pada teman-teman, ceritakan kisah inspiratifmu dengan syarat dan ketentuan berikut :

SYARAT DAN KETENTUAN UMUM
1. Berteman dengan Nahima Press ( https://www.facebook.com/NahimaPress ) dan menyukai fanpage Penerbit Nahima Press https://www.facebook.com/NahimaPressindo
2. Penulis bergabung dengan grup Nulis Bareng Nahima Press https://www.facebook.com/groups/1588258214792131/ 
3. Berteman dengan PJ : Muhamad Budiman https://www.facebook.com/muhbudiman1 dan menyukai Fanpage https://www.facebook.com/FansMuhamadBudiman/ (untuk informasi update peserta)
4. Membuat catatan/status mengenai informasi ini di Facebook dengan menandai 20 orang teman termasuk akun Nahima dan PJ Muhamad Budiman.
5. Event ini berlangsung selama 1 bulan penuh (selama bulan suci Ramadhan). Mulai 6 Juni s.d. 5 Juli 2016 (DL : 6 Juli 2016 pukul 23:59)
6. Update peserta, InsyaAllah seminggu sekali. (Minggu, malam hari)

KETENTUAN NASKAH
1. Naskah merupakan Kisah Inspiratif yang tidak menyinggung SARA, dengan panjang naskah 3-5 halaman.
2. Ukuran kertas A4 dengan margin 4-4-3-3 (atas-kiri-bawah-kanan), Justify.
3. Font : Times New Roman, spasi 1,5.
4. Naskah merupakan karya asli. Bukan merupakan jiplakan atau saduran. Kisah pribadi/orang lain/fiksi (Kisah nyata pribadi, dapat nilai plus) *ket : di bawah judul, garis bawahi "Berdasarkan kisah nyata pribadi".
4. Sertakan biodata narasi di akhir naskah maksimal 80 kata.
5. Simpan naskah dengan format .doc , dengan nama file : Dosa_Nama Penulis_Judul Cerpen (Contoh : Dosa_Muhamad Budiman_Hanya Secolek)
6. Kirim attachment naskah cerpen (bukan di badan email, ya) ke akun email saya : muhamadbudiman21@gmail.com dengan judul email (subject) sesuai dengan nama file.
7. Boleh mengirimkan maksimal 2 naskah.






HADIAH
● JUARA 1 : Voucher penerbitan 200rb + sertifikat cetak + diskon 10% setiap pembelian bukunya
● JUARA 2 : Voucher penerbitan 150rb + sertifikat cetak + diskon 10% setiap pembelian bukunya
● JUARA 3 : Voucher penerbitan 100rb + sertifikat cetak + diskon 10% setiap pembelian bukunya
● Untuk seluruh kontributor yang lolos dalam event ini akan mendapatkan e-sertifikat dan diskon 10% setiap pembelian bukunya

NB : Keputusan juri dan PJ tidak bisa diganggu gugat

Untuk informasi dan tanya jawab mengenai informasi event, bisa hubungi saya melalui :
 Email : muhamadbudiman21@gmail.com

Line : muhbudiman
FB : https://www.facebook.com/NahimaPressindo
Web : http://www.nahimapress.com

Share:

Lomba Menulis Cerpen dan Puisi Nasional


Hai-hai jika kalian hobi dalam menulis, khusunya menulis cerpen atau menulis puisi. Silahkan saja ikutan dalam lomba ini. Lomba terbaru yang admin bagikan, temen-temen yang nikat mengikuti silahkan saja daftar. Sebelum deadlinenya habis.

Keterangan dalam Lomba Menulis Cerpen dan Puisi 2016, Tema Bebas ini adalah sebagai berikut:

LOMBA MENULIS CERPEN DAN PUISI NASIONAL (GRATIS)
TEMA: “BEBAS”
(3 JUNI S/D 4 JULI 2016)


Salam literasi!

Dalam meningkatkan semangat menulis, kami mengadakan event bertema bebas. Kami memberi peluang jajaran penulis untuk berkreasi sebebas-bebasnya.

Yuks disimak ketentuannya….

Ketentuan-Ketentuan

Ketentuan Umum Peserta 
  • Like fanspage L EventOrganizer: https://m.facebook.com/LEventorganizer/ 
  • Peserta merupakan anggota di grub L Event Organizer:https://m.facebook.com/groups/1582646205389773/ dan like: https://m.facebook.com/Penerbit-Nerin-Media-299436560255130/ 
  • Naskah cerpen dan puisi diutamakan merupakan flash true story (kisah nyata), boleh pengalaman pribadi maupun orang lain. Flash fiction juga boleh.
  • Ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, tidak mengandung unsur pornografi dan kekerasan.
  • Naskah harus karya asli bukan jiplakan (plagiat) atau saduran, dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba lain.
  • Repost info lomba ini di FB masing-masing dengan menandai (men-tag) minimal 15 orang teman, termasuk akun PJ Event. (Bagi yang punya blog, boleh repost di blognya)
Ketentuan naskah Cerpen:
  • Naskah diketik di kertas A4 dengan jarak spasi 1,5. Font TNR (Times New Roman) 12 pt, margin normal. Panjang naskah karya 2-4 halaman.
  • File disimpan dengan nama: CB_Nama_Judul (contoh: CB_Fara_Dayung Keramat)
  • Pada bagian akhir naskah (masih dalam file yang sama), cantumkan foto diri (bebas) dan biodata (max 50 kata), meliputi nama, nama Fb, alamat email, No. HP, serta karya yang sudah pernah diterbitkan (bila ada).
  • Naskah dikirim dalam bentuk lampiran (attachment, bukan pada badan email) ke email: leventorganizer13@gmail.com dengan subtitle: CB_Nama penulis_Judul.
Ketentuan Lomba Penulisan Puisi:
  • Naskah diketik di kertas A4 dengan jarak spasi 1,5. font TNR (Times New Roman) 12 pt, margin normal. Panjang naskah karya 1 halaman.
  • File disimpan dengan nama: PB_nama_judul (contoh: PB_Fara_Dayung Keramat)
  • Pada bagian akhir naskah (masih dalam file yang sama), cantumkan foto diri (bebas) dan biodata (max 50 kata), meliputi nama, nama Fb, alamat email, No. HP, serta karya yang sudah pernah diterbitkan (bila ada).
  • Naskah dikirim dalam bentuk lampiran (attachment, bukan pada badan email) ke email: leventorganizer13@gmail.com dengan subtitle: PB_nama penulis_judul.
Keterangan Tambahan:
  • Lomba ini tidak dipungut biaya administrasi apapun (gratis) dan terbuka untuk umum.
  • Peserta lomba cerpen boleh mengikuti lomba penulisan puisi, begitu juga sebaliknya.
  • Setiap pesera hanya diperbolehkan mengirimkan satu naskah terbaik.
  • Naskah dinilai dari segi kerapian, ketepatan EYD, gaya bahasa/pemilihan diksi, dan kedalaman pesan.
  • Pemenang, Insya Allah akan diumumkan paling lambat 2 minggu setelah DL. Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.
  • Untuk Cerpen, 25 kontributor terbaik akan dibukukan secara indie dalam bentuk Antologi Cerpen. Untuk Puisi 100 kontributor terbaik akan dibukukan secara indie dalam bentuk Antologi Puisi.
Reward masing-masing pemenang Cerpen dan Puisi akan mendapatkan:
  • Juara 1: Paket Penerbitan Gratis + Sertifikat Cetak
  • Juara 2: Voucher Penerbitan 200.000 + Sertifikat Cetak
  • Juara 3: Voucher Penerbitan 100.000 + Sertifikat Cetak
  • Seluruh kontributor yang dibukukan berhak mendapatkan e-sertifikat, dan diskon 10 % untuk setiap pembelian bukunya.
Share:

TIPS BERTAHAN HIDUP MAHASISWA DI FAKULTAS KEDOKTERAN UNAIR (PART 2-LAST)


            Ini dia yang sudah ditunggu yaitu part 2 dari Tips Bertahan Hidup Mahasiswa di Fakultas Kedokteran UNAIR (Part 1) , ayo langsung saja kita simak bagaimana cara agar bisa survive di FK UNAIR.

·         Perhatikan kuliah dengan baik, Jangan Tidur!
Metode perkuliahan di FK UNAIR itu termasuk metode klasik. Artinya, dosen masuk kemudian menyuapi mahasiswanya dengan sejuta info penting selama berjam-jam. Berbeda dengan SMA, ketika pelajaran pasti di sela-sela itu ada tugas yang diberikan oleh bapak/ibu guru kita. Saat kuliah, kita hanya terdiam menyimak dan mencatat. Jadi, dipastikan sangat nyaman untuk tidur apalagi ruangannya seperti di dalam freezer dan ruangan yang berisi ratusan mahasiswa + 1 dosen. Mantap, hotel pun kalah nyaman.
Namun, saya menyarankan untuk tidak tidur. Kita memang bisa belajar sendiri dari buku atau ppt yang diberikan dosen. Akan tetapi, biasanya dalam kuliah ada info penting yang disampaikan oleh dosen dan itu yang akan keluar di ujian. Hmm, terus bagaimana cara agar tidak mengantuk? Cara paling mudah adalah dengan duduk di depan. Semakin depan dudukmu, godaan kantuk akan semakin berkurang. Itu dikarenakan tidak berebut oksigen sebagaimana saat kita duduk di tengah atau belakang.  Ditambah kita bisa mendengar suara dosen dengan jelas, barangkali aja dosen tersebut sedang melawak, lumayan kalau kita mendengar dengan baik. Yang kedua, bawalah air minum. Lumayan lah untuk menyadarkan kita saat kita mengantuk. Bisa dengan diminum atau disiram, hehe.

·         Mencatat saat kuliah dan Bedakan mana yang nice to know dan must to know!
Saat SMA mencatat bukan sesuatu yang penting karena memang semuanya ada di buku pelajaran kita. Namun, lain halnya dengan mahasiswa. Mencatat itu harga mati. Apalagi mencatat apa yang dikatakan dosen. Biasanya itu keluar ujian dan banyak kasusnya saat kita di dunia kerja. Mencatat bisa di buku atau lembar kosong yang sudah kita persiapkan sebelumnya. Bisa juga di hardcopy dari ppt dosen tahun sebelumnya yang kita print sendiri karena materi yang disampaikan tidak jauh berbeda dan yang perlu ditulis hanya tambahannya saja.
Membedakan nice dan must to know adalah hal yang penting tetapi sulit dilakukan. Harus mendengarkan dengan baik agar kita bisa mengetahui mana yang wajib kita ketahui. Mengapa kita harus bisa memilah materi? Teman-teman mahasiswa baru yang masih polos, materi kuliah kedokteran itu banyak sekali, bahkan lebih banyak dari semua materi yang pernah diperoleh selama SD sampai SMA. Yang dipakai itu tidak semuanya, hanya yang must to know. Jadi, kita harus menghemat kapasitas otak untuk mempelajari hal-hal yang penting saja.

·         Jadilah kuli saat praktikum, jangan jadi mandor!
Pasti ada beberapa yang kurang memahami pernyataan di atas. Sebenarnya itu adalah pesan dari salah satu dosen Biologi Kedokteran yang sudah meninggal. Pesan itu akan selalu kuingat walaupun aku sering jadi mandor sih, hehe. Kita kembali ke pembahasan. Kuli yang dimaksud di sini adalah sebagai mahasiswa yang melakukan praktikum. Selama praktikum, kita akan dibagai ke beberapa kelompok yang biasanya terdiri dari 8-10 mahasiswa bahkan lebih (hanya biokimia saja yang terdiri dari 4 mahasiswa). Dengan jumlah mahasiswa sebanyak itu dalam satu kelompok, rasanya bukan hal yang aneh jika ada yang tidak melakukan praktikum dan hanya mengamati sekeliling. Golongan mahasiswa pengamat inilah yang disebut mandor. Malas melakukan hanya berkeliling dan bahkan bercanda dengan mandor lain.
Wah, enak sekali jadi mandor. Iya memang enak saat praktikum, tetapi hancur saat ujian. Praktikum memang bisa dipelajari dari buku. Namun, pelajaran itu akan tetap melekat di otak kita saat kita juga melakukannya saat praktikum. Walaupun saat ujian para mandor terkadang lulus, saat di dunia kerja yang berhubungan dengan praktikum itu kemungkinan besar akan mengalami kesulitan. Oleh karena itu, lebih baik jadi kuli saat praktikum daripada jadi kuli yang kehabisan tenaga saat ujian.

·         Belajar dicicil, jangan kebut semalam!
Ini kebiasaan buruk yang sering dilakukan saat SMA. Belajarnya hanya h-1 ujian. Materi ujian SMA memang sedikit, bisa dibilang sangat sedikit dibanding kuliah. Apalagi soal ujian di FK UNAIR berupa 100 soal pilihan ganda dan ada 3 bentuk soal, pilihan ganda biasa, pernyataan 1,2,3,4, dan sebab akibat. Bagaikan SBMPTN setiap ujian. Jangan dibiasakan bersantai saat jauh dari ujian. Usahakan pulang kuliah, di kos atau di rumah di-review lagi materi yang didapatkan saat kuliah, itu sangat membantu karena sistem penyimpanan otak kita yang lebih suka sedikit demi sedikit daripada langsung banyak.
Namun, mahasiswa biasanya banyak sekali acaranya. Bisa lebih sibuk dari presiden. Isi kehidupannya rapat organisasi dan kepanitiaan. Sampai lupa untuk belajar yang merupakan kewajibannya. Bagi tipe mahasiswa yang seperti ini, belajar setiap hari merupakan kewajiban yang berat. Terpaksa hanya bisa belajar menjelang ujian. Jika memang keadaannya demikian, jangan belajar dari text book karena materi yang terlalu banyak dibebankan kepada otak akan melelahkan. Strateginya adalah dengan belajar soal-soal tahun lalu. Biasanya sangat efektif, apalagi menghadapi ujian modul yang soalnya tidak jauh beda dari tahun sebelumnya. Namun, ada beberapa mata kuliah yang tidak bisa hanya dengan belajar soal, seperti anatomi dan mikrobiologi yang jauh berbeda dari tahun sebelumnya. Jadi usahakan luangkan waktumu untuk belajar setiap harinya, kalau terpaksa belajar kebut semalam, jangan hanya belajar soal tetapi juga baca sekilas ppt dosen. Tentu saja, jangan lupa untuk berdoa.

·         Sediakan waktu untuk kebahagiaanmu
Mengapa yang ini diletakkan terakhir? Karena kesehatan jiwa itu sangat penting bagi kelangsungan perkuliahan kita. Percuma kalau kamu stres atau depresi, semua materi tidak akan masuk di pikiranmu. Pikiran harus tetap rileks, bahkan bahagia kalau bisa. Jiwa juga begitu, sebaiknya selalu tentram dan damai. Setiap orang punya cara masing-masing untuk bahagia. Mahasiswa yang agamis biasanya mendapatkan kebahagiaan setelah beribadah, membaca kitab suci, atau saat berdoa.
Contoh lain adalah mahasiswa yang movie freak, seperti saya ini, setiap keluar film baru langsung dia berangkat ke bioskop untuk menontonnya. Ini boleh saja asalkan sesuai dengan kondisi. Jika besok ujian atau praktikum, ya jangan menonton lah, belajar dahulu persiapan untuk besok. Ada juga mahasiswa yang mall holic, jika stres solusinya adalah jalan-jalan ke mall. Tidak usah beli apa-apa, hanya berjalan keliling tiba-tiba stresnya hilang. Luar biasa. Tipe yang selanjutnya adalah mahasiswa predator, saat depresi volume lambungnya seakan lebih besar dari biasanya. obatnya hanya satu, makan sebanyak mungkin. Dan masih banyak tipe mahasiswa yang caranya juga berbeda untuk bahagia. Intinya, jangan lupa bahagia kawan!
           

            Itulah beberapa cara untuk survive di FK UNAIR. Semoga bisa bermanfaat bagi kita semua. Tetap kunjungi blog ini ya, insya Allah akan ada info-info menarik lain. Terima kasih ^_^
Share:

Minggu, 03 Juli 2016

Istriku, Kemana Engkau Pergi?


            Pagi itu matahari bersinar lebih cerah dari biasanya. Cerahnya mentari menembus jendela menerangi rumah yang cukup sepi di ujung perumahan. Cahaya itu tidak lupa untuk menyilaukan mata seorang pria yang masih tertutup, terlelap dalam nikmat mimpi yang tiada hingga. Tersadar ada yang mengusik tidurnya, dia terbangun. Tak langsung dia duduk, masih terbaring mengumpulkan jiwa yang belum mendarat di raganya. Lima menit berlalu, tubuh itu seakan terisi penuh, berusaha menegakkan badannya sambil berdoa dan bersyukur atas nikmat Allah swt yang telah membangunkannya. Dia menoleh ke sekitarnya. Tidak ada orang, tak terdengar adanya suara. Bahkan lebih sunyi dari hutan paling sepi. Dia mendekatkan jangkauan pandangan ke kasurnya. Terlihat di situ ada kartu tanda penduduk bertuliskan Ahmad Panji Setiyono. Agak heran dia melihatnya, tetapi dengan sigap dia menyimpan KTP itu di sakunya.
            Dia beranjak dari kasurnya. Berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Di situ ada cermin, terlihat tubuhnya yang tinggi, proporsional, dan wajah tampan yang berjenggot. Terlihat di situ umurnya sekitar 30-an. Setelah menatap cermin, dia menyadari sesuatu.
            “Lina sayang, kamu di mana?” seketika dia memanggil istrinya.
            Tidak ada jawaban, “Mungkin dia masih sibuk atau sedang keluar, aku mandi dulu saja,” ucap Panji.
            Guyuran air membasahi tubuhnya yang merasakan kelelahan. Semua pegal itu hilang seketika terkena air dingin. Beberapa menit kemudian, dia sudah berganti baju dan terlihat sangat rapi. Kembali dia terheran karena istrinya tak kunjung muncul.
            “Lina, kamu di mana? Aku lapar nih, biasanya kamu yang menyiapkan,” tanya Panji.
            “Ya sudah, aku masak sendiri,” ujarnya ketika tidak ada jawaban.
            Dia pun memasak dengan lihai. Entah dari mana kemampuan memasaknya itu diperoleh, dia tidak menyadarinya. Dia melakukan dengan senang hati dan bersemangat. Tiba-tiba aktivitasnya itu terhenti.
            “Wah, elpijinnya habis. Aku keluar dulu deh untuk membelinya. Mungkin saja nanti aku bertemu dengan istriku.”
            Dia berjalan keluar rumah. Terlihat ada mobil yang terparkir di halaman. Namun, dia tidak mengendarainya karena sengaja ingin berjalan kaki untuk membeli elpiji. Dia bingung akan mencari ke arah mana. Beberapa kali melihat sekitar, terlihat ada warung yang sepertinya menjual sembako. Segera dia berjalan menuju warung tersebut.
            “Permisi bu, di sini jual elpiji?” tanya Panji kepada ibu yang duduk di depan warung tersebut.
            “Oalah nak Panji, toh. Iya di sini jual. Sebentar ya saya ambilkan,” ibu itu segera masuk sambal membawa tabung elpiji kosong yang dibawakan Panji.
            “Berapa bu harganya?”
            “18 ribu, nak,” jawab ibu itu.
Seketika panji memberikan uangnya sambal mengucap terima kasih. Panji kembali ke rumah dengan rasa senang karena tempat jualan elpijinya tidak terlalu jauh. Sesampainya di rumah, Panji sadar mengapa dia tidak bertanya kepada ibu penjual elpiji mengenai istrinya.
“Apa aku harus kembali lagi ya?” tanyanya kepada diri sendiri.
“Wah, tidak usah deh, aku lanjutkan masak dulu, tanggung,” dia segera kembali ke dapur.
Beberapa menit kemudian, masakannya telah selesai dan siap untuk dilahap. Kembali dia memanggil istrinya barangkali dia sudah pulang. Namun, tetap taka da jawaban. Dia memutuskan untuk memakan masakannya dahulu kemudian berencana untuk menelpon istrinya. Setelah makan, dia mencari handphone-nya. Mencari kontak istrinya di telepon genggamnya. Dia terkejut karena tidak ada nama Lina di kontaknya. Dia mencoba mengetik nama lain, seperti istriku, sayang, atau nama-nama lain yang mungkin dia gunakan tetapi tidak juga ia temukan. Di kontaknya hanya terlihat nama-nama orang yang belum pernah ia kenal sebelumnya.
“Lebih baik aku berkeliling saja ke tempat yang biasa dikunjungi istriku,” pikirnya.
Dia mencari kunci mobilnya. Ditemukan dengan cepat di atas meja yang dipenuhi buku-buku memasak. Terlihat pula, sebuah name tag yang bertuliskan Restoran Syukur dengan nama Panji tertulis juga di situ. Dia kembali heran dan terdiam sebentar. Namun, dia tidak terlalu memikirkannya karena tujuan utamanya adalah mencari Lina, istrinya. Langsung dia keluar dan menaiki mobilnya.
“Hmm, lebih baik aku ke mall dulu. Lina biasanya sering jalan-jalan ke mall,” ujarnya sambil menginjak gas menuju mall yang biasa dikunjungi istrinya. Sampai di sana, langsung dia cari istrinya. Tak lupa dengan membawa foto dia bertanya ke setiap orang yang dia temui. Namun, tidak ada yang mengenalnya. Raut muka sedih mulai tampak di wajahnya. Rasa rindu yang semakin dalam menyiksanya. Dia semakin bingung sebenarnya apa yang terjadi sampai istrinya pergi. Kemudian dia teringat bahwa istrinya juga sering duduk di taman. Segera dia menghilangkan rasa sedihnya dan berangkat ke taman.
Tak ada perbedaan hasil yang ia peroleh setelah mencari di taman. Semua orang tidak mengetahui di mana bahkan tidak mengenal istrinya. Rasa sedih semakin larut menutupi semangat hidupnya.
“Ya Allah, ke mana aku harus mencari istriku?” harapnya kepada Sang Kuasa.
Allahu Akbar, Allahu Akbar. Terdengar adzan Dzuhur. Allah swt memanggil Panji untuk menghadap kepada-Nya. Mencurahkan segala isi hatinya.
“Lebih baik aku sholat dahulu. Semoga Allah swt mempertemukanku dengan istriku,” harapnya di sela-sela adzan dan iqomah.
Setelah sholat di masjid tempat dikumandangkannya adzan tadi, dia berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah swt mengharapkan istrinya kembali. Beberapa detik setelah berdoa, dia teringat akan ibu penjual elpiji tadi. Dengan sigap dia menuju mobil dan mengendarainya menuju warung ibu tersebut.
“Bu, maaf menganggu sebentar, boleh saya bertanya?”
“Iya boleh, nak. Silahkan.”
“Apa ibu mengenal istri saya?”
“Oh, nak Lina. Iya ibu mengenalnya, memangnya ada apa?
“Alhamdulillah, ibu tahu ke mana Lina pergi?
“Oalah, nak. Iya ibu baru ingat. Maaf sebelumnya ya, kemarin itu tidak sengaja ibu melihat nak Panji mengusir Lina dari rumah nak Panji. Ibu tidak tahu mengapa tetapi yang ibu lihat kemarin nak Panji marah-maran dan Lina menangis. Saya juga heran mengapa terjadi seperti itu padahal rumah tangga nak Panji dan nak Lina itu sangat harmonis.”
Panji terkejut, dia kembali bertanya,”Terus apa ibu tahu ke mana Lina pergi?”
“Kemarin Lina memang titip pesan kepada ibu, jika Panji mencarinya, kunjungilah alamat ini. Sepertinya ini alamat orang tua Lina, nak,” sembari memberikan sepucuk kertas kepada Panji.
“Terima kasih banyak, Bu. Saya merasa bersyukur sekali.”
“Segera dikunjungi saja, nak. Lina itu sangat menyayangimu.”
Panji menuju mobilnya dan pergi menemui Lina. Dia masih bingung mengapa tidak mengingat semua itu padahal baru kemarin. Kemudian, dia juga kebingungan apa yang menyebabkan dia sampai marah seperti itu kepada istrinya.
Tidak sulit bagi Panji menemukan alamat yang tertulis di kertas itu. Dia pun segera memencet tombol dekat pintu.
“Assalaamu’alaikum,” Panji mengucap salam.
“Wa’alaikumus salaam warahmatullahi wabaraktuh,” balasan dari dalam rumah yang begitu lembut.
“Cari siapa, mas?” tanya orang dari dalam rumah itu.
“ Saya mencari Lina, istri saya,” jawab Panji.
Tidak ada jawaban dari dalam rumah. Tiba-tiba pintu terbuka. Tidak lain dan tidak bukan itu adalah Lina. Seketika panji memeluk Lina dengan erat sambil menangis.
“Lina, aku minta maaf atas yang aku lakukan kemarin. Aku sayang kamu, Lina. Kamu jangan pergi.”
“Iya mas, aku juga sayang mas. Aku yang seharusnya minta maaf.”
“Memangnya aku kok bisa marah seperti itu kepadamu?”
“Sebenarnya hanya salah paham, mas. Kemarin, mas mengunjungiku ke rumah sakit terus melihatku berduaan dengan lelaki lain. Itu bukan siapa-siapa mas, itu hanya pasien yang sedang menanyakan kondisi keluarganya. Aku ini seorang dokter, mas. Kemarin aku mau menjelaskan tapi mas tidak memberi kesempatan dan langsung mengusirku.”
“Maafkan aku ya, Lin. Aku memang lelaki posesif. Kamu mau kan kembali ke rumah kita?”
“Iya, aku mau mas. Bahkan tanpa disuruh pun aku mau kembali. Namun, aku bingung satu hal. Mas kok bisa ingat kemarin memarahiku?” tanya Lina.
“Malah aku yang mau nanya mengapa aku bisa lupa hal sepenting itu, aku tadi seh bertanya ke ibu yang di warung.”
“Oalah tidak salah aku menitip pesan ke Bu Susi yang punya warung dekat rumah. Begini mas, sebenarnya mas itu menderita amnesia atau hilang ingatan. Jenis amnesia yang mas alami itu retrograde artinya mas tidak bisa menambah ingatan yang baru. Seminggu lalu mas mengalami kecelakaan dan kepala mas mengalami cedera yang parah. Jadi, ingatan mas yang tersisa adalah yang sebelum kecelakaan itu. Namun, itu bisa disembuhkan mas dan sekarang sedang dalam masa terapi.”
“Oalah pantas aku lupa. Apa memang separah itu keadaanku?”
“Iya mas, bisa di bilang sangat parah. Terkadang juga mempengaruhi ingatan sebelum kecelakaan. Apa mas ingat kalau mas seorang koki restoran terkenal?”
“Apa kamu bilang? Aku seorang koki? Oh iya seh, tadi aku menemukan nama tag kerjaku. Pantas aku tadi memasak kok lihai banget.”
“Wah aku jadi kangen masakan mas nih. Ya sudah aku siap-siap dulu ya mas.”
“Iya sayang, kubantu menyiapkan ya sambil aku meminta maaf kepada orang tuamu.”
“Aku sayang kamu, mas Panji.”

“Aku juga sayang kamu, Lina.”

Share:
Instagram
Firstawa Copyright © 2016 Official Website. Diberdayakan oleh Blogger.

About me

I'm a future microbiologist

Followers

Labels

Siapa yang akan menjadi juara euro 2016?

Translate